Engkau duduk di jok depan dan ia duduk di jok belakang, pas di belakang jok kekasihmu. Ketika mesin kau matikan, kekasihmu melangkah turun di warung mie kering milik seorang tionghoa, meninggalkan kalian berdua di dalam mobil yang dingin ac-nya mengembun di jendela-jendela rayben. Lalu padanya kau mulai memperdengarkan tiga lagu pilihanmu, bukan lewat pemutar musik tapi dengan bibirmu langsung, engkau masih tak puas dan kau juga memperlihatkan salinan liriknya.
Lalu katamu,"menyukai lagu ini tidak berarti ada kekasih lain selainnya." Engkau berusaha meyakinkannya, sementara dingin mulai menggigit kulitnya yang terbungkus flanel biru, putih, hijau, merah, berkotak-kotak, dan bergaris-garis. Ia mendekap tubuhnya sendiri, memeluknya erat dan kuat, saat itu dingin bergerilya dengan cepat menyerang tulang hingga menembus sum-sumnya. "Lagu-lagu ini membawaku pada tahun-tahun ketika mimpi-mimpi masih di junjung tinggi," engkau masih berkata menegaskan maksudmu, dan ia yang masih bersama dingin yang mulai menyakitkan, menerawang saat-saat yang kau maksudkan.
Entah kau dapat membaca, engkau akhirnya menekan tombol dan aliran dingin yang membuat jendela-jendela rayben mengabur pucat perlahan menghilang. Dalam hatinya ia

0 komentar:
Posting Komentar