Saya mengenalnya sekitar setahun lalu. Kami dengan mudah mengakrabkan diri melaui cerita tentang novel, film dan komik dari negeri Tiongkok. Hingga tiada lepas dari perbincangan tentang hal tersebut di setiap pertemuan kami. Ia memiliki informasi yang lumayan luas mengenai budaya-budaya populer ini.
Terkadang ia sering mengeluh dengan kesukaannya tersebut. Katanya, teman-teman seumurnya menganggap ia aneh dengan hobi tersebut sehingga seringkali ia terkucil sendiri, tak memiliki kesamaan referensi cerita saat bersama mereka. Di sisi lain, pembaca cerita silat Mandarin tidaklah sebanyak pembaca manga, budaya populer dari Jepang yang laris manis di negeri ini bagi remaja seusianya. Sementara apa yang dibacanya hanyalah artefak-artefak yang ramai ditemui di tahun 80an hingga 90an, di mana anak-anak seusianya masih dibuai kandungan. Budaya populer ini sangat akrab di waktu saya masih bersekolah dasar yang biasanya saya dapatkan dengan meminjam milik teman. Saya sendiri melihatnya sebagai anak yang sedikit melenceng dari zaman generasi tontonan dan musik di MTV, yang masih menyimpan dan mengingat jejak-jejak budaya visual.
Jika anda menyukai atau pernah membaca komik-komik seperti Tapak Sakti, Tiger Wong, Drunken Fist atau novel- novel silat seperti Pendekar Hina Kelana, Pendekar Pedang Tangan Satu, dan sebagainya. Begitu pula dengan film-fil silat mandarin dari zaman Shaw Brothers hingga era Tsui Hark. Beragam genre dan gaya dari penulis-penulis yang berbeda dengan lancar dilafalkannya. Sebagaimana yang saya rasakan, anda mungkin akan bernostalgia saat berbicara dengannya
Sebaliknya, ia tak menyukai film-film buatan Hollywood. “Ndak ada nyeninya, buka koper terus tembak,” katanya dengan lantang. Mungkin apa yang dirasakannya seperti halnya saya saat menyaksikan laga pertarungan dalam film kungfu mandarin. Khususnya, adegan pertarungan michelle yeoh dengan dalam salah satu scene di Crouching Tiger Hidden Dragon. Dikisahkan, Michelle Yeoh menantang ...... yang telah mencuri pedang Takdir Hijau milik pendekar kelas wahid tanpa tanding Li Mu Bai. Merasa memiliki kekuatan, ..... membalas tantangan tersebut.
Bagi saya, pertarungan tersebut tidak sekedar adu ketangkasan, selain dapat menikmati kelembutan dan kehalusan, adegan tersebut juga syarat dengan makna simbolik serta pertarungan nilai dan cara pandang. Khususnya saat beragam senjata yang digunakan oleh Michelle Yeoh takluk di hadapan Takdir Hijau yang disela-selanya disisipkan dialog-dialog menarik antara Michelle dan ....
Dalam salah satu dialognya, michelle
Adegan tersebut menyiratkan pesan
Dua bulan kemarin, saya menyaksikan satu film dokumenter berjudul "Dragon Kungfu's from Wu Tang" di channel National Geographic. Film ini berkisah tentang kehidupan para pendeta Wu Tang dan murid-muridnya di kuil yang terletak di puncak gunung. Para pendeta Wu Tang hidup dengan sangat sederhana. Mereka menguasai kebajikan dari kitab dan jurus-jurus kuno yang kerap kita baca melalui novel dan komik atau melihatnya di film-film silat. Hal menarik dari kisah tentang mereka adalah posisi mereka di tengah hingar bingar dunia posmodern yang terus bertahan dengan nilai-nilai dan pandangan hidup mereka yang tetap dipraktikkan.
Dari film itu saya merasakan betapa tenang hidup mereka tanpa dikuasai keinginan-keinginan duniawi. Di puncak gunung itu mereka bersunyi dalam penyepian demi pencapaian spiritual. Mungkin keresahan kawan saya dengan cerita-cerita silatnya yang kini menjadi hobi antik di era teknologi komunikasi virtual juga merupakan keresahan eksistensinya sebagaimana pernyataannya kepadaku pada akhir perbincangan kami, "saya akan menghilang untuk menyepikan diri."

0 komentar:
Posting Komentar